English | Bahasa

18 May 2006 (No. 07 06)

Data Sektor

Meetings

Pertemuan:


Jadwal Pertemuan Shelter Working Group

Kamis, Mei 18,
jam 19.30 WIB

Lokakarya Seismic-
Safe
Building
– oleh Build Change
-
Perancangan dan Konstruksi Rumah Tembok yang diperkuat dengan Beton Bertulang untuk Aceh- di kantor
UN-Habitat .
Jl T.M.Pahlawan No 3A, Banda Aceh. Pertemuan dilakukan dalam dwibahasa.

Senin, Mei 29,
jam 10.00 WIB
Shelter Working Group

Agenda akan dikonfirmasi
- di Dinas PU.
Jl Pemancar no 5, Banda Aceh. Pertemuan dilakukan dalam dwibahasa.


Senin, Juni 12,
jam 10.00

Agenda akan dikonfirmasi
- di Dinas PU.
Jl Pemancar no 5, Banda Aceh. Pertemuan dilakukan dalam dwibahasa.

Untuk informasi terbaru, harap menghubungi Deepty Tiwari di UN-Habitat.

Untuk jadwal pertemuan rutin, silahkan klik disini.

Laporan Pertemuan Sebelumnya

15-05-06
SWG Meeting Notes

SWG Discussion Items


09-05-2006
Meulaboh Shelter meeting

24-04-06
Shelter and Livelihood meeting Notes

Laporan Lainnya

Minutes – BRR Timber Needs Workshop

List Certified companies by FSC

 

Jadwal Aceh Habitat Club

Kamis, Juni 1
Studi kasus Alue Naga

Kamis, Juni 15
Studi kasus Kajhu

Kamis, Juni 29
Studi kasus Kajhu

Tempat : UN-Habitat
Jl T.M.Pahlawan No 3A, Banda Aceh.

Untuk informasi selanjutnya:

Aceh Institute
Kontak: Nurul Kamal
Jl Sultan Iskandar Muda N
Punge Blang Cut Banda Aceh 23234
Phone/Fax : +62-651-41682, +62-651-7400185
email: info@acehinstitute.org
Web:www.acehinstitute.org

Monitoring

Milestones

Rumah Baru :

Permintaan:128,000
Dalam perbaikan: 22,000
Selesai April: 24,000
Selesai Juni:35,000 (prediktif)

Untuk data selengkapnya : ML17May06

Harap mengirimkan informasi terbaru Anda kepada BRR atau UN-Habitat
yayan@unhabitat-indonesia.org

Quality Monitoring PU-Unsyiah-UN-Habitat

Brief Summary Early Results

Watsan Monitoring & Evaluation of Post-tsunami Permanent Housing in Aceh & Nias, 2nd Round

Accountability Index

Unsyiah's Report and Data

CD-Rom tersedia di kantor UN-Habitat.

Harap menghubungi Zulfikar di UN-Habitat untuk mengambil CD-Rom. Download disini formulir berikut, yang menyatakan bahwa organisasi Anda akan menjaga kerahasiaan identitas responden.

Dokumen


Perpustakaan UN-Habitat di Banda Aceh.

Buku: 49

Laporan
Soft Copy: 284
Hard Copy: 35

Peta :
Soft Copy: 194
Hard Copy: 12

Jika Anda dapat ikut untuk memberi kontribusi dokumen, silahkan menghubungi
yayan@unhabitat-indonesia.org

Tentang Isu Kualitas Konstruksi dan Tingkat Kepuasan
 

Banyak Pembangunan Rumah yang Secara Luas Mengacu Kepada Building Code

Apakah 40.000 rumah yang sedang dibangun atau dalam proses pembangunan aman dan tahan lama? Universitas Syiah Kuala dan UN-Habitat terus melakukan pemantauan. Sejauh ini penemuan untuk kualitas adalah rata-rata: persyaratan-persyaratan yang digariskan dalam Building Code (dalam kaitannya dengan integritas struktural dan keamanan akan gempa) telah diikuti, meskipun tidak semua. Secara ringkas: 24.000 rumah yang telah selesai memiliki tingkat kualitas dan keamanan yang memadai.

Tetapi tidak semua rumah dapat menahan gempa. Gempa dengan skala Richter 6 hingga 7 membutuhkan bangunan yang dipancangkan ke pondasi. Kerusakan sangat berat di struktur yang dibangun secara tidak layak, tetapi bangunan yang dibangun dengan baik (“dengan kualitas anti gempa”) mengalami kerusakan cukup parah. Building Code menawarkan asuransi untuk banyaknya gempa yang akan mengguncang Aceh, tetapi tidak semua gempa sama di setiap tempat.

Pemberian skor kami berdasarkan observasi lapangan oleh tim pemantau Unsyiah terhadap rumah “yang telah dibangun” oleh 35 organisasi. Setiap observasi, diluar kuesioner panjang, menjadi indikator di dalam kategori-kategori berikut : pondasi, struktur, pilihan material, pengikatan dan perlindungan terhadap angin serta kualitas penyelesaian (finishing). Kategori ini kemudian membuat skor kualitas rata-rata. Penambahan beban peninjauan berdasarkan dengan zona gempa, seperti Pantai Timur membutuhkan bangunan yang tidak sekuat sebagaimana di daerah Pantai Barat misalnya.

Banyak pihak yang terlibat dalam pengembangan kuesioner dan metodologi pemberian skor: Staf fakultas teknik Unsyiah; UN-Habitat dan staf manajemen proyek UNDP; Departemen Pekerjaan Umum (Pemukiman) Propinsi Aceh dan Shelter Work Group. Metodologi ini tidak dikembangkan di dalam BRR, karena pemantauan dan evaluasi Unsyiah adalah inisiatif pemantauan yang dilakukan oleh pihak ketiga. Pemantauan lapangan juga dilakukan untuk pembangunan rumah oleh kontraktor yang menggunakan dana BRR. Hasil pemantauan ini juga dan dilaporkan kepada BRR dan pemerintah propinsi.


Pemberian skor ini dibagi berdasarkan kategori berikut:

 

Pada klasifikasi akhir, penurunan tingkat diaplikasikan jika satu dari elemen komposit dari skor adalah “merah (berbahaya)”. Misalnya, penurunan tingkat diaplikasikan dalam kasus pondasi buruk yang tidak sejalan dengan tingkat “rata-rata” kualitas yang dapat diterima secara umum.


Apakah hasilnya?

  1. Hanya 3 organisasi (Emergency Architects, Atlas Logistique and Care) dan kontraktor BRR mendapat skor diatas 3, hasil diberikan dalam warna "label biru", misalnya “melebihi dan di atas building code”. Tidaklah semua lokasi dimana organisasi-organisasi ini bekerja mendapat skor di atas 3.

  2. 26 organisasi mendapatkan “label hijau (aman) ”, misalnya skor 2.5 atau lebih dan stabil: pekerjaan mereka (dalam lokasi-lokasi sampel) adalah “sebagian besar dapat diterima” jika mengacu pada Building Code. Tidak sejalan dengan itu, kualitas rata-rata cenderung buruk.

  3. Perumahan di 14 lokasi diberikan “label kuning”. Disini kualitas kelihatan lebih mudah ditanyakan dan dibutuhkan inspeksi tambahan/peninjauan ulang (retrofitting) untuk hasil yang telah dicapai.

  4. Realisasi pembangunan rumah, yang didanai oleh pemerintah propinsi Sulawesi adalah kurang baik.





Sebagaimana yang dikatakan, pemberian skor berdasarkan pemantauan lapangan “terhadap rumah yang telah dibangun”. Tujuan yang baik tidak termasuk dalam perhitungan, karena keamanan bergantung pada apa yang telah dilakukan. Meskipun demikian, observasi lapangan kadangkala subjektif. Misalnya, apakah kolom yang pada pelaksanaannya dibangun sembarangan masih termasuk struktural atau tidak? Hal ini juga ternyata “tergantung oleh waktu” : Ketika tim mengunjungi perumahan BRR di Gampong Jawa, Banda Aceh, konstruksi secara rata-rata cukup baik (2,81), tetapi tiga bulan kemudian, kontraktor yang sama menggunakan kayu dengan kualitas yang buruk. Hal ini akan menghasilkan skor sekitar 2.50.

Tim juga biasanya mengunjungi lokasi lokasi dimana rumah yang dibangun oleh pembangun hampir selesai atau sudah selesai. Hal ini menyebabkan pondasi atau struktur tidak dapat diamati. Survey ini berdasarkan “kemungkinan keamanan”: berdasarkan atas kisaran besar indikator, kecenderungan kinerja yang baik secara umum diperkirakan dan, jika diperlukan, selisih/kesenjangan data diisi secara hati-hati.

Langkah berikutnya, Departemen PU NAD (Permukiman), tim Unsyiah dan UN-Habitat akan mengunjungi 20 organisasi, berbicara mengenai hasil-hasil yang diperoleh sebelum membuat rekomendasi.

Tidak ada hubungan yang jelas antara Kualitas Konstruksi dan Tingkat Kepuasan

Di tabel di atas, tingkat kepuasan diukur berdasarkan 9 pertanyaan terpisah berkaitan dengan kepuasan atau isu yang mendasari tingkat kepuasan. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain “apakah organisasi melakukan pekerjaan dengan baik” atau “Apakah organisasi memenuhi janjinya”. Kekhawatiran utama di sini adalah apakah penerima bantuan puas dengan kinerja (atau proses) dan hasil dari pihak yang membangun rumah.

Pemantauan ini tidak mengatakan bahwa masyarakat yang tidak menempati rumah karena kualitas yang buruk atau masyarakat secara umum tidak senang dengan rumah baru. Kami hanya menemukan korelasi positif yang masih lemah antara persepsi dari tingkat keamanan dan kualitas konstruksi. Hal itu berarti : Jika NGO X membangun rumah yang berkualitas tinggi, maka tingkat kepuasan belum tentu terjamin. Bahkan lebih kuat lagi, orang mungkin tidak merasa diri mereka lebih aman. Hasilnya adalah “pengadaan” taxonomi yang apa organisasi-organisasi peroleh di lokasi-lokasi spesifik, dalam kaitannya dengan kualitas konstruksi dan tingkat kepuasan.

Lalu apa yang mempengaruhi kualitas, tingkat kepuasan dan tingkat hunian? Kami tidak berpikiran bahwa masyarakat tidak mendapatkan informasi yang layak atau tidak memiliki cukup “rasa terima kasih”. Kami hanya berpikir secara sederhana bahwa 18 bulan setelah tsunami, masyarakat belum mengambil keputusan. Terlalu banyak keputusan yang perlu diambil dalam kondisi yang tidak pasti: memindahkan anak umur sekolah, mencari sumber penghidupan, menentukan apakah akses jalan yang buruk untuk pergi ke pasar membuat tambahan biaya harian atau biaya yang dapat diterima , memutuskan apakah perlu menyewa rumah di Banda Aceh atau melakukan penanaman di daerah bebas konflik, Bireun. Lebih jauh: apakah tanggul akan dibangun kembali sebagaimana rencana, kapankah pelabuhan baru dapat memberikan pekerjaan baru, apakah masih ada pekerjaan setelah pekerjaan rekonstruksi selesai?

Masyarakat tidak puas. Tingkat kepuasan rata-rata, pada skor dari 0 hingga 10, adalah 6. Tetapi standar deviasi adalah 2. Dalam bahasa sederhana, dan dalam perkataan kuesioner, banyak orang yang cenderung puas, tetapi juga banyak yang ragu. Karenanya, UN-Habitat dan Universitas Syiah Kuala melanjutkan pemantauan untuk kualitas konstruksi dan kepuasan dalam kerangka kerja yang menangkap banyak isu yang berkaitan dengan perumahan dan rekonstruksi perumahan.

Download : Construction Quality - Satisfaction Base Data (PDF, 135 KB)

Organisasi

Pemerintah

Panduan Baru BRR

Kami berharap untuk menerbitkan panduan baru BRR di newsletter edisi berikutnya. Untuk sementara ini, beberapa kontraktor telah "mendaftarkan" non-penerima bantuan untuk menerima bantuan rumah dengan menggunakan dana dari BRR, dan hal ini tanpa persetujuan BRR. Brr akan mengambil tindakan pada "pemilik rumah ganda" ini dan membawa mereka ke pengadilan.

Download artikel Serambi
BRR Pidanakan 'Pemilik Rumah Ganda' (Bahasa, PDF 31 KB)

Partners

Spotlight: Uplink

Pembangunan rumah di 24 desa di Peukan Bada, Meuraxa dan Jaya Baru dilakukan dengan cara partisipasi langsung pemilik. pemilik menerima bantuan dalam bentuk material bangunan dan upah tukang. kualitas dan kuantitas material untuk setiap unit rumah dijabarkan melalui kartu-kartu material sedangkan upah tukang dibayar oleh uplink secara bertahap sesuai progres (4 tahap). pemilik secara langsung mengawasi mulai dari kualitas, kuantitas material, hingga proses pembangunan. uplink mengerahkan tenaga pengawas untuk memberi pengarahan teknis di lapangan.

Lulusan baru volunteer program menjadi tulang punggung pengawasan teknis. 13 fresh graduate teknik sipil Universitas Andalas Padang (Unand) dicangkok di kampung-kampung JUB untuk membimbing para pemilik rumah dan mengawasi proses pembangunan. pada tingkat lain 4 pengawas senior mendukung dan membimbing pengawas junior. setiap tukang yang terlibat pembangunan rumah harus mengikuti pelatihan peningkatan skill. berkerja-sama dengan ILO sekian pelatihan telah terlaksana di kampung JUB.

Stabilized soil cement block (soil block) production centers
di empat kampung JUB (Lam Jamee, Lam Teh, Lam Isek, Lam Keumok) dan satu di Ajun; soil block merupakan bata ramah lingkungan hanya mengadung sedikit semen, tidak dibakar, kekuatannya diperoleh dengan cara dipres secara manual. lima fasilitas soil block dikelola secara mandiri di tingkat kampung.
bengkel besi di Lam Manyang menstok kebutuhan besi untuk 3000 rumah dan merakit komponen tulangan rumah secara masal untuk mencapai efisiensi pemakaian material. Bengkel baja di Lam Isek menstok kebutuhan kayu.


Harga rumah Uplink 42 juta untuk rumah bawah, 52 juta rumah panggung. sampai 28 april 2006 sudah 2751 unit berjalan, 978 diantaranya selesai dan
462 pada tahap finishing.

UN-Habitat dan UNDP

Relokasi Tanah dan Konsolidasi melalui Pendekatan Kemasyarakatan (Simeulu ANSSP Project)

Untuk memecahkan masalah ketersediaan lahan untuk rekonstruksi, pendekatan kemasyarakatan adalah mungkin. Hal ini mengintegrasikan isu tanah dan hak guna tanah ke dalam Village Action Planning (CAP) dimana persiapan untuk pembangunan kembali tempat tinggal dan rumah. Sayangnya, pendekatan cara ini akan terabaikan, jika pemerintah dengan mudah menyediakan tanah untuk relokasi tanah bagi mereka yang kehilangan tanah saat tsunami atau bagi mereka yang tidak memiliki tanah. Artikel yang ditulis oleh Fakri Karim (UNDP) ini menjelaskan bahwa lahan milik masyarakat dan perjanjian hak guna tanah adalah mungkin dilakukan di Aceh dan seharusnya didukung.

Download laporan : Resettlement trought CAP ANSSP Project (PDF, 336 KB)

UN-Habitat Project Office
Jl. T.M Pahlawan No. 3A Banda Aceh  NAD, Indonesia
Telp: +62 651 741 2525 / Fax: +62 651 25258
http://unhabitat-indonesia.org

UN-Habitat - Fukuoka, Japan
http://www.fukuoka.unhabitat.org

UN-Habitat
http://www.unhabitat.org

Dokumen Lain

Housing & Settlements Information@UNIMS
Silahkan mengakses halaman untuk informasi perumahan di website UNIMS untuk alamat kontak dan arsip dokumen kebijakan, data, notulensi pertemuan, laporan dan informasi sektor-sektor lainnya.

Housing & Library@UN-Habitat Banda Aceh


UN-Habitat (Banda Aceh) mengumpulkan dokumen untuk rekonstruksi rumah.

Silahkan mengakses katalog kami. Jika Anda dapat ikut untuk memberi kontribusi dokumen, silahkan menghubungi yayan@unhabitat-indonesia.org