Data Sektor
Pertemuan
Jadwal Pertemuan Shelter Working Group
Senin, Juni 12,
jam 10.00
Shelter Working Group
– Agenda akan dikonfirmasi
- di Dinas PU.
Jl Pemancar no 5, Banda Aceh. Pertemuan dilakukan dalam dwibahasa.
Untuk informasi terbaru, harap menghubung Deepty Tiwari di UN-Habitat.
Untuk jadwal pertemuan rutin, silahkan klik.
Laporan Pertemuan Sebelumnya
15-05-06
SWG Meeting Notes
SWG Discussion Items 09-05-2006
Meulaboh Shelter meeting
24-04-06
Shelter and Livelihood meeting Notes
Laporan Lainnya
Media Center Korrexa
Coordination Meeting
UNORC-
Humanitarian and Recovery Update Report
Minutes – BRR Timber Needs Workshop
List Certified companies by FSC


The WFP Shipping Service WFP Shipping Service menyediakan jasa penanganan dan pengiriman kargo dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Serta juga membantu untuk masalah cukai untuk dalam negeri Indonesia. Pelayanan ini bebas biaya bagi pengguna! Untuk informasi selanjutnya, silahkan mengunjungi website kami di
http://www.wfpss.org atau hubungi Mischa Rychener, Marketing Officer di 08126992246
Jadwal Aceh Habitat Club
Kamis, Juni 1
Studi kasus Alue Naga
Kamis, Juni 15
Studi kasus Kajhu
Kamis, Juni 29
Studi kasus Kajhu
Tempat : UN-Habitat
Jl T.M.Pahlawan No 3A, Banda Aceh.
Untuk informasi selanjutnya:
Aceh Institute
Kontak: Nurul Kamal
Jl Sultan Iskandar Muda N
Punge Blang Cut Banda Aceh 23234
Phone/Fax : +62-651-41682, +62-651-7400185
email: info@acehinstitute.org
Web:www.acehinstitute.org
Monitoring
Milestones
Rumah Baru :
Permintaan:128,000
Dalam perbaikan: 22,000
Selesai April: 24,000
Selesai Juni:35,000 (prediktif)
Untuk data selengkapnya :
ML17May06
Harap mengirimkan informasi terbaru Anda kepada BRR atau UN-Habitat ke
yayan@unhabitat-indonesia.org
Quality Monitoring PU-Unsyiah-UN-Habitat
Brief Summary Early Results
Watsan Monitoring & Evaluation of Post-tsunami Permanent Housing in Aceh & Nias, 2nd Round
Accountability Index
Unsyiah's Report and Data CD-Rom available at UN-Habitat starting March 1.
Please contact
Zulfikar at UN-Habitat to collect the CD-Rom. Download here a form declaring that your organization will keep the identity of respondents confidential.
Dokumen
Perpustakaan UN-Habitat di Banda Aceh.
Buku: 49
Laporan
Soft Copy: 284
Hard Copy: 35
Peta :
Soft Copy: 194
Hard Copy: 12
kliping, Press Release
dan Brosur : 142
Jika Anda dapat ikut untuk memberi kontribusi dokumen, silahkan menghubungi
yayan@unhabitat-indonesia.org
|
Yogyakarta and Aceh : Bangunan yang Aman adalah HARUS
Apakah ini sebuah kebetulan?
Newsletter edisi sebelumnya ,
silahkan klik link
:
(http://www.unhabitat-indonesia.org/newsletter/achive.htm) membahas tentang Indeks Kualitas Konstruksi untuk 35 organisasi yang membangun rumah bagi 74 kelompok masyarakat di Aceh. Pernyataan pertama, berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh Universitas Syah Kuala adalah banyak rumah-rumah yang dibangun kembali kurang lebih mengikuti standar Building Code, meski hanya sedikit yang benar-benar memenuhinya. Pernyataan kedua adalah bahwa masyarakat tidak yakin apakah rumah mereka sekarang ini jauh lebih aman. Korelasi antara perasaan lebih aman dan kualitas konstruksi adalah positif, meski masih lemah. Untuk alasan tersebut, Architecture Clinic (bersama IAI, GTZ dan Holcim Cement) serta UN-Habitat menerbitkan 30.000 komik untuk masyarakat agar masyarakat lebih mengetahui tentang bangunan yang aman.
Secara kebetulan, pada tanggal 18 Mei, Build Change dan UN-Habitat juga mengorganisir workshop mengenai ilmu pengetahuan dan praktek-praktek yang berkesinambungan dan pembangunan pasca gempa. Build Change adalah organisasi internasional non-profit yang bekerja di Aceh untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk keberlanjutan serta juga pembangunan yang aman dari gempa. Workshop yang dihadiri oleh cukup banyak peserta ini juga menyoroti mengenai pengetahuan tentang aman gempa ini pun tidaklah mudah:
- Kita tahu dengan baik bagaimana mendesain dan membangun bangunan yang cukup aman untuk unit rumah seluas 36 m2;
- Kita tahu bahwa vernakular, bata tradisional dan rumah beton, sehubungan dengan kelayakan kolom dan balok silinder, dengan semua bagian diikat dengan baik, dibangun dengan kualitas material yang bagus dan dibuat/dibangun dengan penuh ketelitian/tenaga yang ahli, malah lebih bagus dari pada menggunakan material-material baru yang belum teruji
- Building Code, untungnya melampaui standar keamanan. Meskipun standar yang dituliskan untuk detil konstruksi tidak selalu dapat dilakukan oleh tukang dengan kemampuan rata-rata. Tenaga yang biasanya tersedia di daerah setempat, dengan peralatan sederhana;
- Baru sedikit upaya untuk memahami kondisi tanah ketika menghadapi tekanan proses rekonstruksi, meskipun kondisi tanah yang buruk dapat membuat bangunan runtuh jika terjadi gempa, meskipun dengan pondasi biasa.
- Masih sedikit cara untuk membuat unit rumah yang dibangun dapat diperluas oleh keluarga yang ingin melakukannya, atau memudahkan keluarga memperluas rumah untuk mendapatkan unit rumah yang lebih besar.
Bekerja dengan masyarakat dan kontraktor lokal kecil merupakan hal yang jelas tidak mudah untuk dilakukan. Sulit untuk mengharapkan produksi yang sangat cepat dengan teknologi terbaik, tetapi setidak-tidaknya satu hal sudah menggunakan solusi yang teruji oleh waktu pada skala yang lebih besar: membangun kembali masyarakat di lokasi-lokasi yang secara historis lebih stabil daripada membangun di lokasi-lokasi kosong (seharusnya ada semacam memori kolektif untuk lokasi-lokasi aman di Aceh); membangun masyarakat kembali dengan teknologi dimana mereka memiliki kepercayaan dasar.
Tetapi ketika proses membangun kembali 100.000 rumah telah selesai, logika-logika ini memiliki keterbatasan- keterbatasan : masyarakat termiskin tampaknya sudah menempati lokasi-lokasi terburuk dengan kondisi tanah rawa dan kondisi tanah yang buruk; masyarakat yang lebih miskin tidak mampu membangun bangunan yang aman atau melakukan perluasan bangunan yang aman; dan tukang yang berpengalaman serta kualitas material yang baik tidak mudah didapat. Apakah pembangunan yang kita lakukan saat ini sudah cukup aman?
Mungkin sudah. Apakah perumahan di lokasi-lokasi pemukiman dan apakah perluasan rumah sudah cukup aman? Pertanyaan-pertanyaan ini masih belum terjawab.
Dan mengapa perumahan vernakular di Yogyakarta runtuh dalam jumlah besar – tidak seperti di Aceh dan bahkan Nias? Apakah ini merupakan garis kesalahan yang tidak terduga? Akselerasi tekanan tanah yang tidak terduga, yang telah merusakkan bangunan-bangunan yang bahkan di desain untuk zona gempa terkuat di Indonesia? Kesalahan Kobe : runtuhnya konstruksi yang seluruhnya atau separuhnya menggunakan kayu diatasnya menggunakan lapisan tanah liat yang berat dan bukannya lapisan ringan yang berbahan baku timah? Atau apakah ini menyangkut dengan praktek di Jawa yang mencampur jumlah besar kapur ke dalam campuran semen beton? Atau, berbeda dengan Aceh, yang absen sepenuhnya dari mengetahui bagaimana membangun bangunan yang aman?
Apakah jelas bahwa gempa yang terjadi di Yogyakarta dan pengalaman sejauh ini di Aceh dan Nias menunjukkan kurangnya keamanan dalam agenda pembangunan untuk Indonesia:
- Kebutuhan untuk menasionalkan Building Code, dan untuk institusi yang menerapkan Building Code;
- Kebutuhan untuk melakukan pendidikan kepada masyarakat mengenai bangunan yang aman;
- Kebutuhan untuk pengadaan yang aman dan prosedur penyelamatan diri atau persiapan pengadaan shelter untuk gempa dan bukan saja untuk tsunami;
- Kebutuhan untuk melakukan pendekatan sensitif kultural untuk membangun kembali pemukiman yang aman : dimana masyarakat dapat menemukan shelter, selama masa gempa, di pemukiman yang cukup padat dimana resiko runtuhnya dinding sering terjadi, atau di pemukiman yang beranda dan beranda yang menggunakan tiang-tiang mudah runtuh, atau di rumah-rumah perlu adanya penambahan ruangan untuk tempat berlindung, sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Membangun konstruksi yang aman adalah tanggung jawab yang terbatas untuk organisasi-organisasi pemberi bantuan. Tetapi itu memang seharusnya bukanlah menjadi tujuan utama. Membantu masyarakat untuk membangun keamanan yang berkesinambungan adalah tugas yang sesungguhnya.
[Download : Artikel Teddy Boen ,
Building a Safer Aceh] (PDF, 900 KB)
Rekomendasi Build Change
Build Change telah mengembangkan seperangkat panduan desain dan konstruksi untuk menerapkan pembangunan rumah yang menggunakan beton dan bata yang dibangun di Aceh. Panduan ini berlaku untuk cerita tunggal, bangunan sederhana dengan atap yang menggunakan penopang kayu ringan. Tujuan utama dari panduan ini adalah untuk meningkatkan bangunan tahan gempa dari tipe bangunan yang umum di Aceh, dengan biaya rendah atau tanpa biaya serta menggunakan material dan tenaga terampil setempat.
Bab pertama memberikan tips untuk meningkatkan kualitas dan ketenagakerjaan untuk dinding bata, seperti misalnya merendam bata di air bersih sebelum membangun dinding untuk memastikan kuatnya hubungan antar bata. Bab lainnya fokus untuk membangun konfigurasi, hubungan antara elemen-elemen beton (tiang dan balok), menekankan kualitas beton, serta tanah dan pondasi.
Panduan dibuat berdasarkan pengalaman staf lokal dan internasional Build Change dalam mendesain dan membangun struktur dengan tipe serupa sebelum tsunami, dan 11 rumah pilot project di Aceh Besar. Selama masa membangun pilot project, Build Change mengembangkan detil Construction Quality Checklist yang mana dapat diadaptasi untuk kepentingan gambar sesuai dengan permintaan.
Apakah panduan ini berguna bagi Anda? Apakah panduan ini setidaknya memberikan atau akan mengubah cara Anda membangun rumah? Apakah Anda memiliki pertanyaan? Jika ada, maka silahkan menghubungi Elizabeth Hausler di Build Change, elizabeth@buildchange.org. Build Change adalah organisasi non-profit internasional yang bekerja di Aceh selama lebih dari setahun. Panduan ini dibuat dengan mendapatkan dukungan dan dana sebagian dari Mercy Corps.
Download :
Earthquake-Resistant Design and Construction Guideline (Zip file : 2MB)
Organisasi
Pemerintah
Peraturan Baru BRR Diluncurkan
Unit Implementasi Perumahan BRR meluncurkan enam kebijakan baru kemarin, dengan referensi regulasi sebagai berikut:
Kebijakan Tansportasi Laut BRR
BRR menerbitkan kebijakan yang menghimbau agar transportasi material untuk rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh dan Nias untuk dilakukan melalui jalur laut, jika memungkinkan. Kebijakan ini berlaku mulai 15 Mei 2006.
Tujuan utama dari transportasi melalui laut ini adalah untuk mengurangi beban kerusakan jalan di Propinsi Aceh. Jalan yang ada saat ini tidaklah dirancang untuk dilalui terus menerus oleh kendaraan-kendaraan berat. Bahkan berdasarkan pengamatan, jalan Medan-Banda Aceh saat ini mengalami kerusakan karena lalu lintas truk dan kendaraan berat.
Pelayanan ini merupakan kerjasama Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Nias (BRR), United Nations Recovery Coordinator dan United Nations World Food Program (WFP)
Download :
BRR Sea-Transportation Policy
(PDF 268 KB)
Mitra
Spotlight: GenAssist
GenAssist adalah program pemulihan tsunami dari Christian Reformed World Relief Committee (CRWRC) yang bekerja di Aceh dengan kantor basis di Kanada. Seluruh staf-nya berasal dari indonesia, dengan 80% staf berasal dari Aceh.
GenAssist/CRWRC, yang telah membuka kantor di Lhoong, diminta oleh kepala desa setempat untuk membangun sekitar 400 rumah di kecamatan Lhoong pada bulan Maret 2005. Untuk memenuhi permintaan tersebut, GenAssist/CRWRC mulai dengan membangun rumah tipe 42 m² di enam desa: Umong Seuribee, Teungoh Geuntet, Baroh Geuntet, Baroh Blangmee, Teungoh Blangmee dan Lamkuta Blangmee, sebagai pilot project. Sejalan dengan proyek pembangunan, banyak warga desa yang kembali ke desa mereka, sehingga permintaan rumah pada bulan Agustus 2005 melonjak menjadi 500 rumah, yang pada akhirnya disanggupi oleh GenAssist sebanyak 525 rumah. Hingga kini, sebanyak 216 unit telah selesai, ditempati dan diserahterimakan kepada pemiliknya, 90 unit masih dalam proses. 90 unit lainnya akan dimulai pada tanggal 6 Juni 2006, yang akan bersamaan dengan penyerahan 90 unit yang akan telah selesai pada waktu tersebut. Ini akan menjadi upacara penyerahan rumah GenAssist yang ke-lima.
Pada salah satu upacara penyerahan rumah, Ibu Risnamwati dari Lamkuta Blang Mee yang kini tinggal di rumah baru, mengatakan:
"Saya dulu tinggal di rumah yang besar, dan memiliki semua yang saya inginkan, tapi kini saya tidak memiliki apapun, hanya dua anak laki-laki saya. Setelah tsunami, selama ini saya tinggal di tenda. Saya tidak berani bermimpi untuk memiliki rumah lagi, karena saya tidak mampu membangunnya, tidak peduli betapa kecilnya itu. Seluruh harta saya lenyap ditelan tsunami. Saya tidak memiliki sumber pencaharian untuk menopang hidup. Tetapi kini saya merasa terhormat kembali. Saya kini memiliki rumah yang cantik. Terima kasih GenAssist dan tolong sampaikan rasa terima kasih saya kepada para donor GenAssist"
GenAssist/CRWRC bekerja dengan masyarakat di dalam merencanakan dan membangun rumah yang sesuai dengan kondisi setempat. Konstruksi rumah dibangun berdasarkan kebijakan setempat tanpa mengabaikan standar konstruksi, dan model rumah didesain oleh warga Blangmee yang bernama Januar, yang kehilangan seluruh keluarganya termasuk istri, anak, orang tua dan tiga saudara kandungnya. Menjadi perhatian pula bahwa rumah yang dibangun nantinya dapat dikembangkan atau diperluas sesuai dengan kebutuhan/keinginan si pemiliknya. Pembangunan rumah ini tidak termasuk pengecatan, karena pengecatan akan dilakukan oleh pemilik rumah sebagai bagian dari partisipasi masyarakat. Hal ini pun telah disetujui oleh konsensus masyarakat.
Untuk membiayai pembangunan 500 rumah, GenAssist/CRWRC menggunakan dana dari CIDA yaitu sebesar CAN $ 1,030,800, dari total proyek sebesar CAN $ 2,575,933 (USD). Sisa 25 rumah lainnya, menggunakan sumber dana GenAssist/CRWRC. Proyek rumah lainnya yaitu di Mukim Gleebruek, Lhoong yang akan segera dimulai dan didanai oleh Mennonite Central Committee (MCC). CRWRC beroperasi di 28 negara
seluruh dunia, dan untuk proyek pemulihan pasca tsunami, program aktif dilakukan di India, Sri Lanka dan Indonesia.
UN-Habitat
Aceh Habitat Club
Rekonstruksi pemukiman dan perumahan di Aceh dan Nias telah berjalan selama lebih dari setahun. Shelter Work Group tidak lagi menjadi tempat pertemuan bagi pendatang baru atau tempat untuk melakukan koordinasi sederhana, tetapi sekarang menjadi satu dari sekian banyaknya titik berat yang membahas kemajuan, kesenjangan, performansi, kepuasaan dan permasalahan lintas bidang terhadap pembangunan kembali perumahan dan pemukiman. Sekarang telah banyak kelompok-kelompok kerja di tingkat daerah yang menangani isu utama mereka sendiri.
Terdapat beberapa tempat pertemuan walaupun tidak terlalu dibayang-bayangi dengan permasalahan pemasok, tempat pertemuan yang menawarkan ruang untuk kelompok stakeholder lokal dan organisasi masyarakat sipil .
Aceh Habitat Club menawarkan tempat pertemuan tersebut. Isu-isunya adalah berhubungan dengan perumahan dan kepemerintahan. :
- Hak dan kepemilikan
- Kepastian dan kejelasan hukum; Penghargaan terhadap hukum adat
- Resolusi konflik, legal redress dan mediasi
- Pemberdayaan pada tingkat lokal
- Gender
- Keberlanjutan
- Praktis tetapi merupakan pertanyaan-pertanyaan penting yang informatif , sebagai contoh:
-
Manajemen perkotaan yang berkelanjutan
-
Perumahan baru di masa depan untuk korban non tsunami
-
Manajemen lahan secara adat dalam menyikapi kepemilikan lahan yang telah menyebar luas .
Aceh Habitat Club , bermitra dengan UN-Habitat dan Aceh Institute, akan menjadi poin pertemuan lokal untuk lembaga pemerintah, akademik dan organisasi bantuan di Banda Aceh.
Forum ini terbuka untuk siapapun dan organisasi manapun.
Bahasa utama adalah Bahasa Indonesia.
Download :
Aceh Habitat Club Discussion Program (PDF, 13 KB)
UN-Habitat Project Office
Jl. T.M Pahlawan No. 3A Banda Aceh NAD, Indonesia
Telp: +62 651 741 2525 / Fax: +62 651 25258
http://unhabitat-indonesia.org
UN-Habitat - Fukuoka, Japan
http://www.fukuoka.unhabitat.org
UN-Habitat
http://www.unhabitat.org
Dokumen Lainnya
Housing & Settlements Information@UNIMS
Silahkan mengakses halaman untuk informasi perumahan di website UNIMS untuk alamat kontak dan arsip dokumen kebijakan, data, notulensi pertemuan, laporan dan informasi sektor-sektor lainnya.
Housing & Library@UN-Habitat Banda Aceh
UN-Habitat (Banda Aceh) mengumpulkan dokumen untuk rekonstruksi rumah.
Silahkan mengakses katalog kami. Jika Anda dapat ikut untuk memberi kontribusi dokumen,
silahkan menghubungi
yayan@unhabitat-indonesia.org
|