English | Bahasa

16 Juni 2006 (No. 09 06)

Data Sektor

Pertemuan


Jadwal Pertemuan Shelter Working Group


  • Pertemuan Shelter Working Group mulai saat ini dilakukan setiap hari Rabu pertama awal bulan, diadakan di BRR, dan dipimpin oleh Tim Implementasi Perumahan. Pertemuan pertama yaitu tanggal 5 Juli, waktu akan dikonfirmasi kembali.



Senin, 17 Juli,

jam 10.00 WIB

Shelter Working Group
– Agenda konfirmasi kembali- di Dinas PU.
Jl Pemancar no 5, Banda Aceh. Pertemuan dilakukan dalam dwi-bahasa.

  • Pertemuan Shelter Working Group dengan kelompok kerja lainnya akan menyusul dan diumumkan kemudian.

 

Untuk informasi terbaru, harap menghubung Deepty Tiwari di UN-Habitat.

Untuk jadwal pertemuan rutin, silahkan klik

Laporan Pertemuan Sebelumnya


12-06-06
SWG Meeting Notes

15-05-06
SWG Meeting Notes

Laporan Lain

Water and Sanitation Coordination Meeting

 

The WFP Shipping Service WFP Shipping Service menyediakan jasa penanganan dan pengiriman kargo dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Serta juga membantu untuk masalah cukai untuk dalam negeri Indonesia. Pelayanan ini bebas biaya bagi pengguna! Untuk informasi selanjutnya, silahkan mengunjungi website kami di http://www.wfpss.org atau hubungi Mischa Rychener, Marketing Officer di 08126992246


Jadwal Aceh Habitat Club

Jadwal pertemuan Aceh Habitat Club untuk membahas studi kasus Kajhu ditunda dan akan diumumkan kemudian.


Untuk informasi selanjutnya :

Aceh Institute
Kontak: Nurul Kamal
Jl Sultan Iskandar Muda N
Punge Blang Cut Banda Aceh 23234
Tel/Fax : +62-651-41682, +62-651-7400185
email: info@acehinstitute.org
Web:www.acehinstitute.org


Monitoring

Milestones

Rumah Baru:

Permintaan: 124,000
Selesai April: 22,000
Selesai Juni: 36,000 (prediktif)

Untuk data selengkapnya: ML015June06

Harap mengirimkan informasi terbaru Anda kepada BRR atau UN-Habitat ke
yayan@unhabitat-indonesia.org

Quality Monitoring PU-Unsyiah-UN-Habitat

Brief Summary Early Results

Watsan Monitoring & Evaluation of Post-tsunami Permanent Housing in Aceh & Nias, 2nd Round

Accountability Index

Laporan dan data Unsyiah

CD-Rom tersedia di UN-Habitat mulai tanggal 1 Maret.

Harap menghubungi Zulfikar adi UN-Habitat untuk mendapatkan CD-Rom. Harap men-download formulir berikut, yang menyatakan bahwa organisasi Anda akan menjaga kerahasiaan identitas responden.

Dcument Ticker

Perpustakaan UN-Habitat di Banda Aceh.

Buku: 49

Laporan
Soft Copy: 327
Hard Copy: 35

Peta : 208
Hard Copy: 18


Clipping, Press Release
dan Brocchure
: 145

Audio Visual : 14

 

Jika Anda dapat ikut untuk memberi kontribusi dokumen, silahkan menghubungi
yayan@unhabitat-indonesia.org

 

Editorial


Newsletter kali ini membahas "isu ganda". Panjangnya laporan newsletter kali ini merupakan upaya tim Policy Support UN-Habitat untuk memproduksi pembelajaran dari Aceh dan Nias, yang s berkaitan dengan apa yang terjadi di Yogyakarta aat ini. Muamar Vebry melihat pada isu kerusakan, sedangkan ahli spesialis gempa Teddy Boen menyarankan kepada kami tentang penyebab dan remedi untuk isu ini, dan fotografer Veronica Wijaya melihat pada upaya pemulihan awal.

Sehubungan dengan jadwal cuti, maka kami tidak menerbitkan newsletter edisi berikutnya dua minggu mendatang.

Newsletter akan terbit kembali pada tanggal 13 Juli.

Bruno Dercon


Yogyakarta : Pembelajaran dari Yogya dan Aceh

Penilaian kerusakan (loss assessment) dan kerugian untuk Yogyakarta dan Jawa Tengah telah diluncurkan minggu ini : 157.000 rumah diperkirakan hancur dan 202.000 rumah rusak. Dari nilai finansial, untuk sektor perumahan, hal ini diperkirakan sekitar Rp 15.3 Trilliun. Secara umum kerusakan dan kerusakan adalah dua kali lipat. Sekitar 1 juta keluarga tinggal di daerah yang terimbas bencana. Secara umum kerusakan dan kerugian secara ekonomi rata-rata untuk setiap keluarga adalah Rp 13 juta di Gunung Kidul dan sekitar Rp 30 juta di Klaten dan Rp 55 juta di Bantul.

klik disini untuk

Executive Summary

Laporan Pemerintah untuk Kerusakan dan Kerugian

Biaya yang dijanjikan pemerintah untuk bantuan perumahan adalah Rp 7 Triliun. Biaya ini termasuk bantuan untuk kerusakan (mulai Rp 30 juta untuk rumah yang rusak hingga Rp 10 juta untuk kerusakan ringan), pendampingan teknis dan biaya tambahan untuk infrastruktur. Menteri Perumahan menyiapkan 8000 fasilitator untuk membantu pemerintah dalam menerapkan skema pendekatan yang dilakukan oleh prinsip-prinsip kemasyarakatan (community-driven)

Masyarakat berinisiatif membangun kembali tempat tinggal mereka dengan bambu dan trapaulin, dibantu oleh lembaga-lembaga donor, para kerabat korban atau lembaga-lembaga bantuan lainnya di Jawa. Kegiatan memilah-milah dan membersihkan bahan-bahan bangunan – seperti bata, kayu, jendela dan rangka pintu – terlihat dimana-mana. Veronica Wijaya dari UN-Habitat mendokumentasikan kegiatan pemulihan awal ini

Klik disini untuk photo story Veronica, PDF 860 KB]


Cukup jelas terlihat bahwa, selain kekurangan dana, masyarakat juga kekurangan keterampilan dan pengetahuan untuk membangun kembali dengan cepat dan juga aman. Bantuan besar pemerintah dan program rekonstruksi yang dikelola sendiri oleh masyarakat menimbulkan harapan yang cukup tinggi – bahkan kadang tidak terlalu realistis. Ada kebutuhan untuk berbagi pembelajaran baik di Yogyakarta dan dari Aceh serta Nias.

Belajar dari Yogya

Kerusakan yang tersebar luas tentunya terjadi karena banyaknya “kekurangan” di sebagian besar rumah. Bangunan tradisional cukup tahan dari resiko gempa, meskipun gempa berskala besar jarang terjadi di daerah ini. Bangunan struktur bangunan tradisional dari bata adalah yang paling menderita kerusakan parah. Apakah perubahan secara menyeluruh dibutuhkan?

Baik bangunan dari bata – yang secara tradisional tidak menggunakan penguatan (reinforcement) – dan bangunan modern yang menggunakan penguatan struktur beton juga rusak dan bahkan rubuh. Penyebab pada kasus ini adalah sederhana : desain , detail, bahan bangunan dan tenaga tukang yang buruk. Sangat sering terjadi bahwa, kolom tidak cukup kuat. Ikatan antara kolom dan beam tidak terikat dengan baik. Di berbagai kasus, lantai dasar dari bangunan bertingkat sudah rubuh lebih dulu. Pengetahuan dan keterampilan dari bangunan tahan gempa sudah pasti tidak lebih baik di Jawa jika dibandingkan dengan Aceh atau Nias.

Kebanyakan bangunan tradisional yang terbuat dari bata juga rubuh. Minggu ini Teddy Boen, ahli gempa Indonesia yang dihormati, meringkas penyebab tersebut :

  • Semua bangunan terbuat dari bata yang rubuh mengindikasikan bangunan yang rapuh.
  • Kesalahan pada konstruksi dinding adalah hal yang umum pada bangunan yang rapuh dan kerubuhan pada bangunan ini adalah sangat cepat.
  • Dinding bata yang terbuat dari bata yang dibakar yang dihubungkan dengan mortar yang lemah, tidak cukup kuat untuk menahan getaran gempa.

    Tetapi Mr.Boen menambahkan bahkan tanpa penguatan beton pun, bukan berarti bangunan itu sepenuhnya buruk. Gereja Katolik di Banda Aceh terbuat dari bata dan tidak memiliki penguatan beton, hanya mengalami kerusakan minor setelah gempa pada 26 Desember. Hal yang sama terjadi pada keraton di Yogyakarta. Dinding bata yang tebal (bata penuh atau lebih) dan campuran kapur dapat memberikan kekuatan dan dapat memberikan tahanan kekuatan. Hal ini tidaklah terlihat di berbagai rumah, entah karena alasan tidak mau atau karena alasan kemiskinan. Menambahkan dari kurangnya ankering dan tenaga kerja yang tidak terampil, kerubuhan dan kerusakan merupakan hal yang tidak dapat dihindari.

    Teddy Boen menekankan bahwa tidak semuanya hilang dari rumah-rumah tradisional bata ini dan bangunan popular menghasilkan hal tersebut :
    • Untuk memberikan ketahanan, beberapa elemen tahanan tegangan di bangunan, kayu, penguatan beton, baja harus dilakukan dan mortar yang merupakan campuran dari pasir dan semen harus digunakan.
    • Semua elemen harus dihubungkan dengan benar, sehingga bangunan dapat berlaku sebagai satu kesatuan ketika mengalami guncangan gempa.
    • Rumah separuh bata yang dindingnya tebal tanpa penguatan harus dibenahi kembali.
    • Dari analisis awal, satu bangunan dari berdinding bata tebal dapat menahan gempa yang mengguncang Yogya menunjukkan bahwa bangunan ini dibangun dengan benar.
  • Untuk bangunan berdinding bata tebal, disarankan untuk menggunakan mortar dengan campuran pasir dan semen.
  • Jika masyarakat membangun kembali struktur bangunan bata dengan penguatan beton, pada pondasi yang baik, dengan rebars yang ditempatkan dengan baik, dengan anker yang baik diantara semua bagian, karenanya keamanan dapat terjamin dengan baik.

    Resiko ini juga mulai terjadi karena masyarakat mulai membangun kembali dinding setengah bata (tidak cukup bata yang ada untuk membangun dinding bata penuh, misalnya), dengan tanpa atau struktur yang buruk, pondasi yang buruk. Pembangunan kembali yang dilakukan oleh masyarakat dengan gotong royong tetapi tanpa pengetahuan dan keterampilan yang cukup, kadang malah justru dapat membahayakan. Teddy Boen saat ini sedang mempersiapkan poster khusus untuk membantu menghadapi isu pembangunan bangunan yang aman, melengkapi dokumentasi untuk konstruksi yang menggunakan struktur beton konkrit.
    Masukan semacam ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk memulai. Penyebaran informasi kepada masyarakat yang baik untuk maslah ini adalah suatu keharusan.

    Informasi publik yang baik dan menyebar belumlah tergambarkan selama masa rekonstruksi di Aceh. Hal ini nampaknya kurang penting, karena ratusan NGO telah melakukannya dengan cukup baik. Namun advokasi sebagai tambahan untuk informasi publik dan tidak dapat digantikan. Karenanya, sekitar 350.000 keluarga akan menjadi sebuah tantangan baru bagi Yogyakarta.

    [Klik disini untuk Assessment (PDF, 362 KB) oleh Muamar Vebry, UN-Habitat]

    Apa pelajaran yang bisa ditarik dari Aceh ?

    Kebanyakan pelajaran yang bisa diambil dari Aceh adalah berhubungan dengan pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat untuk perumahan dalam skala luas Hal ini jelas bahwa Yogyakarta bukanlah Aceh; konlik senjata tidak ada, sumber daya ekonomi untuk pembangunan kembali (material, pekerja, keahlian) lebih besar dan struktur lembaga sosial lebih tebal dan berhubungan. Tetapi hal ini tidak bermakna bahwa pembangunan masyarakat adalah mudah.

    Sebagai contoh, hal ini nampak mudah untuk Yogyakarta untuk mengerahkan 8.000 fasilitator teknis, seperti Departemen Perumahan sedang direncanakan, tetapi departemen ini juga merupakan yang pertama kali mengakui bahwa penentuan skala yang tingi dan pelatihan akan menghabiskan waktu berbulan-bulan jika tidak bertahun-tahun.

    Hal ini memang naïf untuk berpikir bahwa seluruhnya yang sulit di Aceh tidaklah menjadi sulit di Yogyakarta. Sejumlah isu yang dapat di tetapkan:

    1. Mengidentifikasikan penerima manfaat. Penilaian di Yogyakarta telah menjadi sulit karena adanya kekuatiran terhadap komitmen yang harus dipenuhi. (Penilaian pun sangat sulit karena kepadatan penduduk. Di Aceh, mengidentifikasi penerima manfaat menjadi sulit karena pemindahan tempat dan dalam konteks konflik). Banyak fasilitator telah menghabiskan lebih banyak waktu terhadap proses penyaluran dana kepada masyarakat dibandingkan pada fasilitasi teknis. US$ 700 milyar adalah dana yang dibutuhkan, namun dana ini masih terhitung minim dibandingkan dengan angka 1 juta orang tanpa rumah. Permasalahan ini akan meningkat di Yogyakarta. Jumlah rumah bantuan tidaklah sebanding dengan jumlah orang yang membutuhkannya. Mendapatkan akses awal untuk pendanaan akan menjadi politis. Fasilitator –penilai akan berada di tengah-tengah situasi ini.

    Penyebaran informasi teknis untuk pelaksanaan secara langsung ke masyarakat dan pelatihan pekerja secara intensif adalah barangkali lebih efektif daripada berharap bahwa fasilitator dapat memenuhi seluruh perannya dalam proses.


    2. Berhubungan dengan penampungan sementara. Saat ini, mayoritas opini berpendapat bahwa masyarakat dapat menggunakan kembali material dan puing-puing secara umum, ditambah dengan kain terpal untuk memberikan perlindungan. Bantuan untuk peralatan bagi masyarakat bisa mempercepat proses pembangunan/perbaikan tempat tinggal mereka. Tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa pemetaan lahan dan perencanaan desa tidaklah diperlukan.
    Meskipun jika 60.000 rumah telah diselesaikan pada hari ini, masih terdapa sekitar 750.000 orang yang tinggal di penampungan sementara membutuhkan rumah. Di Aceh, orang seringkali hilang harapan akan rumah permanen karena tidak ada kemajuan yang nampak setelah 9 bulan. Janji-janji yang menghilang membuat kepercayaan masyarakat terkikis. UN-Habitat membutuhkan sekelompok fasilitator untuk membuat masyarakat tetap percaya bahwa janji tersebut akan dipenuhi. Di sisi lain fasilitator yang telah membantu dengan baik perencanaan desa dan perencanaan aksi masyarakat, membutuhkan pelatihan kembali yang sulit dan cepat saat pembangunan diawali. Dan tugas mereka pun semakin menjadi teknis.

    Bekerja dalam bantuan pemukiman yang jelas nampaknya semakin kritis sehingga membuat pikiran kelompok terfokus pada bangunan. Tetapi hal ini membutuhkan pemberdayaan masyarakat untuk menggunakan pendanaan baik perumahan permanen dan temporer.


    3. Berhubungan dengan sumber daya dan logistik. Di Jawa, segalanya nampak mudah. Meskipun demikian, kepadatan masyarakat dapat menjadi sumberdaya dan juga sebuah kendala. Mendapatkan seluruh sumber daya dalam lokasi bangunan pada waktu yang tepat merupakan pekerjaan yang menegangkan saraf untuk manager proyek manapun. Pengalokasian dana, bahan pekerja, dan keahlian dalam jumlah luas untuk banyak lokasi merupakan tantangan yang besar. Dari segi keterbatasan penyediaan dan kurangnya pengetahuan LSM untuk memobilisasi persediaan secara profesional atau secara intelektual telah menjadi sebuah permasalahan sendiri di Aceh. Sebagai contoh, Aceh memiliki kebudayaan yang baik dalam pengolahan kayu keras menjadi perahu dan perumahan, tetapi di sisi lain ketersediaan kayu menjadi sebuah kendala. Sementara Yogyakarta memiliki sumber daya pekerja. Hanya saja kebanyakan mereka bekerja di Jakarta dan Surabaya. Saat ini daerah mereka lebih membutuhkan sumber daya tenaga ini dibandingkan dengan kota besar tersebut.

    Sebuah pilihan adalah untuk mengizinkan masyrakat untuk menetapkan kecepatan pembangunan kembali, tanpa resiko hilangnya bantuan keuangan. Pilihan lain adalah untuk memberikan insentif untuk kerja keras (dan aman), misal dengan menambahkan pendanaan untuk sarana masyarakat. Tetapi hal tersebut memerlukan pemeriksaan akan inflasi dan bahkan pelatihan yanglebih untuk meningkatkan produktivitas.

    Keseluruhan tiga contoh pelajaran yang bisa diambil dari Aceh menunjukkan bahwa persyaratan perumahan yang bersumber pada masyarakat tidaklah mudah. Perumahan baru yang aman tidak akan terbangun jika banyak orang menunggu bantuan tanpa adanya sebuah kejelasan. Pembangunan perumahan dengan bantuan mandiri menyiratkan dukungan publik yang kuat –seperti pemeliharaan jalan, pelatihan pekerja, informasi publik- serta juga pemberdayaan masyarakat yang intelektual.

     

    Isu Lain

    Membantu Korban Tsunami yang Tidak Memiliki Tanah

    Ada ribuan penyewa yang tidak memiliki lahan pribadi dan mereka yang kehilangan seluruh harta milik mereka dalam tsunami. Hal ini menjadi permasalahan yang rumit untuk BRR karena rancangan tidak memberikan panduan yang memadai. Untuk menambah permasalahan banyak lembaga dalam negeri yang tidak berpengalaman dalam menangani permasalahan seperti ini. Tidak terdapat catatan resmi terhadap jumlah penyewa dan lokasi yang tepat akan rumah sewa di Aceh dan propinsi lain.

    Kurangnya data statistik dari sejumlah penyewa bahkan sebelum tsunami juga menjadi hambatan yang serius dalam usaha pemerintah untuk memperkirakan jumlah orang yang layak untuk mendapatkan bantuan. Ironis sekali bahwa Indonesia memiliki statistik yang akurat akan jumlah ayam di seluruh kabupaten dan jumlah telur yang mereka produksi, tetapi tidak tahu berapa jumlah orang yang menyewa rumah. Hal ini menjadi suatu ironi .


    Download Article : Helping Tsunami Survivors Without Land (PDF, 112 KB)

     



     
     
     
     

    Yogyakarta Setelah....

    200,000 rumah rusak. 1,000,000 orang kehilangan rumah. Ribuan jiwa meninggal dunia. Kerusakan fatal disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap bangunan tahan gempa. Faktor kemiskinan juga membatasi orang dari membangun rumah mereka menjadi rumah yang sesuai standar. Kualitas perumahan yang rendah telah membuktikan untuk menjadi sebuah masalah untuk penghuni yang tidak beruntung.

    Kerusakan telah meninggalkan banyak reruntuhan bahan bangunan yang dapat digunakan kembali untuk membangun kembali perumahan. (permanen atau sementara) .Di seluruh wilayah yang terimbas bencana, masyarakat bekerja sama untuk mengumpulkan bahan dari reruntuhan seperti batu bata, kayu, bambu dan genteng. Hal ini telah diperkirakan bahwa bahan yang digunakan kembali ini dapat menghemat sekitar 20-30% dari biaya bahan untuk pembangunan kembali sebuah rumah.

    Masyarakat berinisiatif membangun perumahan sementara/temporer dengan bantuan dari LSM lokal dan internasional. Poin yang penting terhadap rekonstruksi bangunan yang lebih aman menurut standar tahan gempa masih merupakan tanda tanya yang tergantung terhadap pelaksanaannya. Ada kebutuhan untuk meningkatkan kewaspadaan publik untuk bangunan yang aman. Jika tidak, kita akan tetap membuat kesalahan yang sama kembali.

    UN-HABITAT meminta kepada organisasi manapun yang terlibat dalam wilayah untuk menekankan isu ini sehingga masyarakat di Yogyakarta dan daerah sekitarnya memiliki kesempatan untuk hidup di rumah yang aman dan baik di masa depan.


    Foto : Veronica Wijaya - UN-Habitat

    Download : Photo Story Yogya Aftermath (PDF, 860 KB)


    Mitra

    Spotlight: Caritas Germany

     

     

    Caritas Germany dalam memberikan bantuan emergensi bertujuan untuk mengurangi beban bagi masyarakat yang terkena musibah. Juga melakukan persiapan pencegahan bencana dan menciptakan struktur untuk persiapan, yang berorientasi kepada masyarakat. Masyarakat diikutkan untuk berpartisipasi di dalam perencanaan, misalnya desain rumah, persiapan menghadapi bencana, manajemen sumber, saluran pembuangan, perencanaan desa dan pemukiman.

    Di dua lokasi proyek rekonstruksi Caritas Germany yang berlokasi di Aceh Utara, masyarakat membentuk panitia desa sebagai mitra pelaksana dan perwakilan masyarakat. Proses rekonstruksi rumah dilakukan melalui tahap-tahap proyek kecil yang kemudian terakumulasi untuk memenuhi komitmen awal. Masyarakat akan terlibat dalam menentukan penerima bantuan menurut kebutuhan atau skala prioritas.

    Pendekatan-pendekatan ini telah menciptakan persatuan diantara penduduk desa, yang diistilahkan dalam "Desa Sosial" dimana proses rekonstruksi berjalan harmoni dengan masyarakat dengan rasa kebersamaan. Perencanaan program sosial dan mata pencaharian untuk desa telah dikembangkan secara bertahap dengan kepedulian masyarakat dan kreativitas. Saat ini, kedua desa telah mencapai tahap kedua pembangunan dengan jumlah total sebanyak 279 rumah, dimana 62 rumah telah selesai pada tahun 2005 dan saat ini 128 rumah masih dalam proses rekonstruksi. Proses ini dilaksanakan oleh Panitia Gampong Jambo Mesjid (juga dikenal sebagai Mesjid Desa Meuraxa) di Blang Mangat, dan Panitia Rehabilitasi dan Rekonstruksi Meunasah Sagoe, bersama dengan mitra lokal Gong Pase di wilayah Sienudon.


    Download :

    About Caritas Germany (PDF, 357 KB)

    UN-Habitat

    Laporan Perkembangan Nias

       
       

    Hari Rabu, 21 Juni 2006, perwakilan dari Kedutaan Besar Jepang dan Propinsi Sumatera Utara bergabung dengan masyarakat Hilimbosi dalam acara syukuran penyelesaian 30 rumah yang merupakan bantuan Masyarakat Fukoaka, Jepang. Desa Hilimbosi yang terletak 20 kilometer sebelah utara Gunung Sitoli, merupakan salah satu daerah yang paling parah terkena dampak gempa Desember 2004 dan Maret 2005.

    Program Aceh-Nias Settlements Support Program (ANSSP) UN-Habitat memberikan bantuan 173 unit rumah di dua desa di Nias, dimana 143 unit merupakan bantuan dari Pemerintah Jepang. Jumlah total dana bantuan adalah sebesar $780,000 dimana dana sebesar $524,000 telah didistribusikan kepada masyarakat. Sedangkan dana US$171,000 dari masyarakat Fukoaka digunakan untuk membangun 30 rumah di Hilimbosi dan telah selesai. UN-Habitat menerima kontribusi dan donasi yang diterima melalui pemerintahan kota Fukoaka dan berbagai organisasi masyarakat lainnya.

    Data resmi menunjukkan bahwa 313 rumah hancur di desa Hilimbosi dan Teluk Dalam (Nias Selatan). UN-Habitat memberikan bantuan untuk 173 rumah dengan dana bantuan yang ada. Proses pembangunan rumah dimulai pada Januari 2006 di Hilimbosi dan Maret 2006 di Teluk Dalam.

    Download : Nias Progress Report (PDF, 1 MB)

     

    UN-Habitat Project Office
    Jl. T.M Pahlawan No. 3A Banda Aceh  NAD, Indonesia
    Telp: +62 651 741 2525 / Fax: +62 651 25258
    http://unhabitat-indonesia.org

    UN-Habitat - Fukuoka, Japan
    http://www.fukuoka.unhabitat.org

    UN-Habitat
    http://www.unhabitat.org

     

     

    Dokumen Lain

    Housing & Settlements Information@UNIMS
    Silahkan mengakses halaman untuk informasi perumahan di website UNIMS untuk alamat kontak dan arsip dokumen kebijakan, data, notulensi pertemuan, laporan dan informasi sektor-sektor lainnya.

    Housing & Library@UN-Habitat Banda Aceh
    UN-Habitat (Banda Aceh) mengumpulkan dokumen untuk rekonstruksi rumah. Silahkan mengakses katalog kami. Jika Anda dapat ikut untuk memberi kontribusi dokumen, silahkan menghubungi Yayan di yayan@unhabitat-indonesia.org